Sebuah tulisan yang sangat inspiratif, saya ambil dari Kompas yang terbit akhir bulan Mei lalu (saya lupa kapan.. soalnya artikelnya sudah keburu digunting dan disimpan oleh mertua).
Selamat menikmati..
Selamat menikmati..
Memberi Tanpa Pertimbangan
oleh Herry Tjahjono
Krisis terus melenggang, kesusahan dan penderitaan mendera, situasi politik berwajah bopeng. Kehidupan di seputar kita kian tak nyaman dan tak pasti.
Dalam kondisi seperti ini, biasanya ada beberapa respons manusiawi yang akan menentukan eksistensi orang itu di masa depan. Ada yang terperangkap aneka kondisi itu. Ini adalah mereka yang cenderung terfokus pada kondisi kehidupan saat listrik (kehidupan) padam.
Namun, ada yang terfokus pada setitik sinar. Tipe kedua inilah yang biasanya menangkap apa yang pernah diungkap Rhenald Kasali (“Sepuluh Kearifan Krisis, Kompas, 4/4).
Dua Tipe Manusia
Maka, ada dua tipe manusia. Pertama, mereka yang merespons kehidupannya ditentukan oleh kondisi sekitarnya (conditional people). Jika kondisi serba krisis, penuh tekanan, mereka kehilangan spirit, demotivasi, loyo, pasrah, apatis, dan cenderung meringkuk, atau paling tidak sekedar mengamankan diri. Mereka biasanya medioker atau sering menjadi pecundang (the loser) dalam kehidupan.
Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah penantian, tergantung dari kondisi yang berpihak. Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah cap-cap yang dilekatkan kondisi sekitar. Jika lingkungan menentukan, sukses identik uang dan kekayaan, maka mereka tak pernah merasa sukses seberapa pun uang dan kekayaan di kantongnya. Jika sukses diidentikkan dengan jabatan direktur, mereka belum merasa sukses dan bahagia sebagai senior manager atau general manager meski jutaan orang mencari pekerjaan atau bawahannya sekedar hidup dengan upah minimum.
Kedua, mereka yang memandang hidup adalah pilihan, keputusan tak peduli kondisi sekitar (unconditional people). Maka, segelap apa pun kondisi sekitar, merekalah yang menentukan, memilih, untuk tetap bersukacita, bersemangat, termotivasi, optimistis menyapa kehidupan. Manusia semacam ini disebut manusia besar (great people), the winner. Orang yang tetap bisa bersukacita dan memilih untuk bersemangat meski krisis mengancam jabatan dan pekerjaan adalah orang yang telah memenangi hidup.
Seorang office boy yang tetap bersemangat menyapu sebersih mungkin meski terancam PHK adalah seorang great employee. Sebaliknya, seorang CEO yang dituntut berkinerja kian tinggi oleh owner akibat krisis, lalu mulai stress, gampang marah, dan melempar bola panas permasalahan ke mana-mana, dia tak lebih dari karyawan medioker.
Kondisi dan situasi politik yang memprihatinkan plus ekses krisis yang kian menekan kehidupan juga menentukan profil rakyat terkait pesta demokrasi. Ada rakyat yang tetap bersemangat dan melakukan hak pilih meski hatinya mengeluh pada kinerja para pemimpin. Bahkan, ada yang tetap penuh semangat ikut memilih dalam pemilu presiden mendatang meski jadi korban daftar pemilih tetap (DPT) yang amburadul.
Mereka ini adalah para great citizen. Sedangkan para “golput” (di luar korban DPT amburadul) yang tidak memilih karena kecewa dan apatis akibat kondisi “sosekpol” kacau tak lebih dari para warga medioker.
Bangsa ini memerlukan sebanyak mungkin unconditional citizen-employee-leader dan seterusnya. Syarat sebuah bangsa besar (great nation) adalah bangsa yang dipenuhi manusia yang memilih tetap berwajah riang, bersemangat, tak peduli krisis global menghantam atau situasi politik membikin lelah jiwa.
Lebih jauh, hanya unconditional people inilah yang berpotensi melahirkan berbagai karya besar, karya agung dalam hidupnya, tak peduli sekecil dan serendah apa pun pekerjaan, jabatan, dan statusnya. Jika mengadaptasi salah satu elemen penting Daffodil Principle, hanya para unconditional people inilah yang paling mampu menjalankan. Mereka adalah manusia pemilih, penentu, untuk bersemangat dan bahagia memenuhi semua tugas hidup tanpa syarat, seburuk apa pun kondisi di sekitarnya.
Prinsip itu pula – meski listrik kehidupan padam dan penuh kegelapan – yang membuat mereka tetap bersemangat mengukir karya-karya terbesarnya tanpa pertimbangan lain kecuali hanya untuk mengukir. Memberi tanpa pertimbangan bukan perkara sederhana. Betapa sering ktia maju mundur untuk sekedar memberikan uang receh kepada pengemis di pinggir jalan. Berjuta pertimbangan menyergap, “Ah, paling-paling itu anak sewaan. Masih muda kok sudah mengemis. Ini tidak mendidik.” Karena itu, jika akhirnya kita memberi, hati pun bersungut-sungut.
Namun, para unconditional people justru dengan sukacita memberi sebab ia memberi tanpa pertimbangan apa pun. Ia hanya ingin memberi, giving for no reason! Pada titik inilah seseorang lebih melihat nyala korek api saat gelap menyelimuti, menatap jalan hidup sedang naik saat kakinya terasa berat.
Maka, pesan moral dari prinsip “memberi tanpa pertimbangan” adalah “Menarilah seolah tak seorang pun menonton, menyanyilah seolah tak seorang pun mendengarkan. Bekerjalah seolah tak memerlukan uang, gaji, atau jabatan. Cintailah seolah tak pernah disakiti. Berbisnislah seolah tak lagi memerlukan profit. Mencontrenglah seolah bukan simpatisan atau anggota mana pun. Berpolitiklah seolah tak lagi punya kepentingan. Memimpinlah seolah tak lagi memerlukan sebuah kekuasaan.”
Ketika kita memilih itu semua, akan lahir karya-karya terbesar dan agung dalam setiap penggalan kehidupan, tak peduli serendah atau setinggi apa pun kedudukan kita saat ini, sesedikit atau sebanyak berapa pun uang kita, dan seterusnya.
Itu berarti, kita telah memenangi hidup.
Dalam kondisi seperti ini, biasanya ada beberapa respons manusiawi yang akan menentukan eksistensi orang itu di masa depan. Ada yang terperangkap aneka kondisi itu. Ini adalah mereka yang cenderung terfokus pada kondisi kehidupan saat listrik (kehidupan) padam.
Namun, ada yang terfokus pada setitik sinar. Tipe kedua inilah yang biasanya menangkap apa yang pernah diungkap Rhenald Kasali (“Sepuluh Kearifan Krisis, Kompas, 4/4).
Dua Tipe Manusia
Maka, ada dua tipe manusia. Pertama, mereka yang merespons kehidupannya ditentukan oleh kondisi sekitarnya (conditional people). Jika kondisi serba krisis, penuh tekanan, mereka kehilangan spirit, demotivasi, loyo, pasrah, apatis, dan cenderung meringkuk, atau paling tidak sekedar mengamankan diri. Mereka biasanya medioker atau sering menjadi pecundang (the loser) dalam kehidupan.
Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah penantian, tergantung dari kondisi yang berpihak. Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah cap-cap yang dilekatkan kondisi sekitar. Jika lingkungan menentukan, sukses identik uang dan kekayaan, maka mereka tak pernah merasa sukses seberapa pun uang dan kekayaan di kantongnya. Jika sukses diidentikkan dengan jabatan direktur, mereka belum merasa sukses dan bahagia sebagai senior manager atau general manager meski jutaan orang mencari pekerjaan atau bawahannya sekedar hidup dengan upah minimum.
Kedua, mereka yang memandang hidup adalah pilihan, keputusan tak peduli kondisi sekitar (unconditional people). Maka, segelap apa pun kondisi sekitar, merekalah yang menentukan, memilih, untuk tetap bersukacita, bersemangat, termotivasi, optimistis menyapa kehidupan. Manusia semacam ini disebut manusia besar (great people), the winner. Orang yang tetap bisa bersukacita dan memilih untuk bersemangat meski krisis mengancam jabatan dan pekerjaan adalah orang yang telah memenangi hidup.
Seorang office boy yang tetap bersemangat menyapu sebersih mungkin meski terancam PHK adalah seorang great employee. Sebaliknya, seorang CEO yang dituntut berkinerja kian tinggi oleh owner akibat krisis, lalu mulai stress, gampang marah, dan melempar bola panas permasalahan ke mana-mana, dia tak lebih dari karyawan medioker.
Kondisi dan situasi politik yang memprihatinkan plus ekses krisis yang kian menekan kehidupan juga menentukan profil rakyat terkait pesta demokrasi. Ada rakyat yang tetap bersemangat dan melakukan hak pilih meski hatinya mengeluh pada kinerja para pemimpin. Bahkan, ada yang tetap penuh semangat ikut memilih dalam pemilu presiden mendatang meski jadi korban daftar pemilih tetap (DPT) yang amburadul.
Mereka ini adalah para great citizen. Sedangkan para “golput” (di luar korban DPT amburadul) yang tidak memilih karena kecewa dan apatis akibat kondisi “sosekpol” kacau tak lebih dari para warga medioker.
Bangsa ini memerlukan sebanyak mungkin unconditional citizen-employee-leader dan seterusnya. Syarat sebuah bangsa besar (great nation) adalah bangsa yang dipenuhi manusia yang memilih tetap berwajah riang, bersemangat, tak peduli krisis global menghantam atau situasi politik membikin lelah jiwa.
Lebih jauh, hanya unconditional people inilah yang berpotensi melahirkan berbagai karya besar, karya agung dalam hidupnya, tak peduli sekecil dan serendah apa pun pekerjaan, jabatan, dan statusnya. Jika mengadaptasi salah satu elemen penting Daffodil Principle, hanya para unconditional people inilah yang paling mampu menjalankan. Mereka adalah manusia pemilih, penentu, untuk bersemangat dan bahagia memenuhi semua tugas hidup tanpa syarat, seburuk apa pun kondisi di sekitarnya.
Prinsip itu pula – meski listrik kehidupan padam dan penuh kegelapan – yang membuat mereka tetap bersemangat mengukir karya-karya terbesarnya tanpa pertimbangan lain kecuali hanya untuk mengukir. Memberi tanpa pertimbangan bukan perkara sederhana. Betapa sering ktia maju mundur untuk sekedar memberikan uang receh kepada pengemis di pinggir jalan. Berjuta pertimbangan menyergap, “Ah, paling-paling itu anak sewaan. Masih muda kok sudah mengemis. Ini tidak mendidik.” Karena itu, jika akhirnya kita memberi, hati pun bersungut-sungut.
Namun, para unconditional people justru dengan sukacita memberi sebab ia memberi tanpa pertimbangan apa pun. Ia hanya ingin memberi, giving for no reason! Pada titik inilah seseorang lebih melihat nyala korek api saat gelap menyelimuti, menatap jalan hidup sedang naik saat kakinya terasa berat.
Maka, pesan moral dari prinsip “memberi tanpa pertimbangan” adalah “Menarilah seolah tak seorang pun menonton, menyanyilah seolah tak seorang pun mendengarkan. Bekerjalah seolah tak memerlukan uang, gaji, atau jabatan. Cintailah seolah tak pernah disakiti. Berbisnislah seolah tak lagi memerlukan profit. Mencontrenglah seolah bukan simpatisan atau anggota mana pun. Berpolitiklah seolah tak lagi punya kepentingan. Memimpinlah seolah tak lagi memerlukan sebuah kekuasaan.”
Ketika kita memilih itu semua, akan lahir karya-karya terbesar dan agung dalam setiap penggalan kehidupan, tak peduli serendah atau setinggi apa pun kedudukan kita saat ini, sesedikit atau sebanyak berapa pun uang kita, dan seterusnya.
Itu berarti, kita telah memenangi hidup.
2 komentar:
Lovely banget bacaannya, Mas!!
Saya paling suka moral notenya.
Let's give and keep giving without reasons. Let's live as if it's the last day of our lives.
hahaha..
iya.. saya juga berusaha untuk mencoba dan mempraktekkan ... :):)
Posting Komentar